Jumat, 23 Desember 2016

Peringatan Maulid Rosulullah

PERINGATAN MAULID ROSULULLAH  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. Bersama para santri dan jama'ah Nurul YaaSiin
12 Rabiul Awal 1437H (12 Desember 2015)

Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barkaatuhu.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hari ini, 15 abad yang silam, 12 Rabiul Awal telah terlahir seorang bayi laki-laki mulia dan dimuliakan dari rahim seorang wanita mulia Syaidah Siti Aminah رضي الله عنه dan Abdullah, ayahandanya.

Bayi itu adalah beliau سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ , Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ...

Shalatullah, Salamullah alaika ya Habiballah..
Shalatullah, Salamullah alaika ya sayyidal murshalin...
Shalatullah,Salamullah alaika ya Imamal muttaqiin...
Shalatullah, Salamullah alaika ya Khataman nabiyiin...
Shalatullah, salamullah alaika ya Jalalal muhibbiin...

Ya Nabi salam alaika...
Ya Rasul salam alaika...
Ya Habib salam alaika...
Sholawatullah alaika.

Dilahirkannya Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  itu karena RAHMAT ALLAH untuk alam semesta ini.
>Termulia akhlaknya,
>Terlembut hatinya,
>Termanis tutur katanya,
>Termesra pada keluarganya,
>Tersayang pada sahabat dan umatnya,
>Terkhusyu' ibadahnya hingga kaki Beliau bengkak dalam kelezatan sholat malam,
>Terlelah dan mudah menangis karena selalu memikirkan keadaan umatnya....
9.128 لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepada kamu seorang Nabi, Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaan kamu lagi sangat mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang mukmin.
(QS.At-Taubah: 128),

>Dicintai para sahabatnya,
>Disegani para lawan-lawannya,
>Paling dermawan,
>Paling mudah memaafkan,
>Terbaik pada pembantunya sehingga Anas bin Malik yang selalu melayani beliau menyatakan, "Selama aku berkhidmat melayani Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ , Beliau tidak pernah bertanya mengapa begini dan begitu".

Allah pun Pencipta langit dan bumi memuji Beliau, "Sesungguh engkau Muhammad memiliki akhlak tertinggi lagi teragung"
68.4 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya engkau (مُحَمَّدً ) mempunyai akhlak yang mulia.
(QS Al Qolam 4).

Sungguh beliaupun dilahirkan di muka bumi ini "liutammima makaarimal akhlaaq" untuk MEMPERBAIKI AKHLAK UMAT MANUSIA.

SubhanAllah lagi-lagi kita kehabisan kata dan bahasa untuk memuji kemuliaan akhlak Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ . Kemuliaan yang tidak akan pernah pudar oleh kebencian, hinaan, fitnah keji dsb.

Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  KEKASIH ALLAH, TELADAN bagi hamba yang merindukan perjumpaan dengan Allah dan ingin selamat di akhirat
33.21 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh pada diri Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah. (QS Al Ahzab 21).

Kami cinta engkau ya Rasulullah, kami rindu engkau ya Rasulullah...
Allahumma ya Allah sampaikan salam cinta rindu kami kepada Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ...
sholawat dan salam selalu tercurah untuk beliau, Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ...
آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ  وصحبِه وَسَلَّمَ
aamiin.

~abah al-faqiir

Rabu, 21 Desember 2016

IBU Sosok Insan Luar biasa

"IBU ADALAH SOSOK INSAN LUAR BIASA"
(Kami semua mencintaimu, IBU...)

Ibu kita ternyata bergelar adalah MSi : Master Segala ilmu.

Tak terbayang bukan, menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar, lifelong education istilah kerennya.

1. Ibu harus belajar Akuntansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, serta menata pemasukan & pengeluaran yang seimbang.

2. Ibu harus belajar ilmu Tata Boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga dengan kreatif, supaya tidak bosan.

3. Ibu harus belajar ilmu Keguruan. Ia harus menguasai ilmu yang diajarkan di sekolah dasar, agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PR-nya.

4. Ibu harus belajar Agama, karena ibu-lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta iman yang kokoh.

5. Ibu harus belajar Ilmu Gizi, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.

6. Ibu harus belajar Farmasi, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sedang sakit dan menyediakan obat-obatan ketika keadaan darurat.

7. Ibu harus belajar Keperawatan, karena beliaulah yang merawat anak/suami ketika sakit. Yang menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres. Ibu adalah perawat yang handal.

8. Ibu harus belajar ilmu Kesehatan, agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk, dll.

9. Ibu harus belajar Psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik saat menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga sebagai teman curhat suami yang terbaik, ketika suami sedang mengalami masalah.

10. Ibu juga bisa cari uang (  bekerja )
Seandainya ibu harus kuliah dulu, butuh berapa lama? Bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas tadi.
Begitu luar biasanya seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik & menemani anak-anak dan suami tercinta. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita?

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat satu ibunya."

Ummi.. Ummi.. Ummi.., Abi..!
Berbhaktilah pada kedua orangtua kita khususnya pada sang IBU dan jangan pernah menyakiti hati dan perasaannya...
Selamat Merayakan HARI IBU (ibu)

~abah al-faqiir

Berkunjung

KITA hanyalah TAMU

Kita sesunggungnya bukanlah tuan rumah,
Tapi setiap kita adalah TAMU
Juga kita bukanlah pemilik dari apa-apa yang ada pada kita,
Namun apa-apa dan semua yang ada pada kita itu hanyalah TITIPAN

Sebagai tamu sudah tentu keberadaan kita tak akan lah LAMA atau tinggal selamanya,
Tapi hingga kunjungan kita dirasakan cukup, pastilah kita akan PAMIT dan KEMBALI...

Begitupun HARTA dan apa-apa yang dititipkan kepada kita termasuk diri ini pun, pasti akan dikembalikan atau dipulangkan kepada sang pemiliknya...
اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ

Demikianlah apa yang disampaikan sahabat Rosulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ , Ibbu Mas'ud رضي الله عنه buat kita semua sebagai renungan dan nasehat diri sebagai nutrisi iman islam dan ikhsaan kita kepada Allah semata...

~abah al-faqiir

Senin, 19 Desember 2016

Renungan diri jelang tahajudku...

Renungan diri.. jelang tahajudku..."

Aku tak tahu lagi berapa banyak khilaf Dan salah yang aku lakukan, betapa banyak dosa yang aku kerjakan mulai mendekati akan sesuatu yang Engkau larang sampai kepada meninggalkan yang Engkau perintahkan..

Aku sudah tak tahu lagi berapa banyak rezeki yang aku dapatkan..baik yang halal hingga mungkin yang haram....  astaghfirullahal adhim

Sungguh aku sudah tak mampu lagi menghitung berapa banyak aku menggunakan waktu yang sia-sia tak ada manfaatnya sejak membuka mata memulai aktivitas dunia hingga kembali ke tempat tidur mengistirahatkan tubuh yang bekerja tak kenal lelah,  demi mengejar dunia...

Ya ALLAH, Hu RObbi...
Engkau telah perintahkan agar manusia berbuat kebajikan tanpa banyak mengharap balasan tetapi aku berbuat sebaliknya demi imbalan harta dunia...

Engkau ciptakan surga buat kekasih-Mu tetapi aku malah berusaha meraihnya tanpa peduli pada-Mu... 
Hu Allah.. ampunilah at as segala khilaf dan dosa-dosaku Ya Robbi..

Engkaulah Dzat Yang Maha Perkasa Ya Ghafuur, Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun Ya Affuw, Engkaulah Dzat Yang Maha Pemaaf segala kesalahan,
>ampunilah dosa, khilaf, dan salahku semuanya....
>juga ampunilah dosa, khilaf, dan salah kaum Muslim in walk muslimat umat Sayyidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam sedunia,
>serta ampunilah pula dosa, khilaf, dan salah kedua orang tuaku tercinta yang telah melahirkan, membesarkan, mengasihi, dan menyayangi sejak kecil hingga dewasa Rabbi, dan tak ada sesuatu pun yang mampu menolongku kecuali kasih sayang-Mu semata. Dan hanya ampunan-Mu yang aku harapkan hanya maaf-Mu yang aku nantikan hanya ridho-Mu yang akan membuatku bisa terselamatkan Yaa Hayyu, Yaa Qayyuum....

Sungguh aku hanyalah sebutir pasir di padang tak berbatas setitik air di samudra yang luas tak mampu aku hidup sendiri tanpa Engkau disisiku,
tak akan sanggup aku hidup sendiri tanpa bersama-Mu.. Laa ilaaha illaa anta… subhanaka innikuntu midhdholimiin.

ALLAH Menjawab, “Wahai anak adam, sesungguhnya jika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharapkan Aku, maka Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli atas apa yang ada padamu. Wahai anak adam, sekalipun dosa-dosamu mencapai setinggi langit kemudian kamu mau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak adam, sekalipun kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menemui-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi” (HR. At Tirmidzi)

Laa ilaha illallahu wahdahu laa sarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii was yumiit wahua 'ala kulli saying qodir...
Subhanallah....walhamdulillah walaa ilaha illallahu Allahu Akbar. Insya Allah.."Aamiin"

~abah al-faqiir

Tasyabbuh

Merayakan Tahun Baru itu ‘Tasyabbuh’ (Meniru-niru) Orang Kafir
Begitupun adanya perayaan menyambut datangnya tahun baru Masehi, kita mengakui dan menghormati adanya perhitungan waktu penentuan awal & akhir tahun Masehi dan kita bertoleran untuk itu. Dan umat Islam sesungguhnya telah memiliki adanya perhitungan kalender waktu sendiri dalam penentuan awal & akhir tahun yaitu Hijriyah. Jadi tidak sepatutnyalah kita ikut menyambut atau merayakan datangnya tahun baru Masehi, karena itu   termasuk meniru-niru (tasyabbuh) orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita,  Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam tata cara berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini telah terjadi baik dalam hal pakaian, maupun dalam hal berpenampilan dan bahkan dalam hal kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Untuk itu marilah, saudaraku kaum muslimin, kita tetap menghormati atau bertoleransi akan datangnya tahun baru Masehi ini, namun tidak berarti kita harus membaur, melebur, dan ikut merayakannya…!‼ moga dapat dipahami dan memberikan manfaat Iman, Islam, dan Ikhsaan kita. Aamiin.

~abah al-faqiir

Toleransi tidak berarti melebur

Toleransi Tak Berarti harus melebur

A. Keimanan dan Toleransi dalam kehidupan beragama .
SUATU hari ada iring-iringan jenazah orang Yahudi yang melintas di depan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para Sahabat. Beliau, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam pun berhenti dan berdiri. Para Sahabat terkejut, kemudian bertanya: “Kenapakah engkau berhenti Ya Rasulullah?, sedangkan itu adalah iring-iringan jenazah orang Yahudi”. Nabi pun menjawab :”Bukankah dia juga manusia?” (HR. Bukhari).

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tegas mengatakan, siapa saja orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengakui kenabiannya, adalah kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak seorangpun di kalangan umat ini yang mendengar tentangku dari kalangan Yahudi maupun Nasrani kemudian ia meninggal dan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa kecuali ia tergolong penghuni neraka” (HR. Muslim).

Inilah sesungguhnya bertoleransi, kita menghormati tanpa harus mengikuti atau membaur, lebih-lebih mengakui keimanan non-Muslim. Iman tidak dicampur-adukan atau disamaratakan menjadi bertoleransi. Kita lihat saja dua hadist di atas, Imannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para Sahabat sempurna, tapi toh juga mereka bisa bertoleransi. Manakala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tiba-tiba berdiri, tentu saja para Sahabat terkejut. Namun, para Sahabat akhirnya paham ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak mengikuti ritual pemakaman orang Yahudi tersebut. Beliau cuma berdiri, tidak sampai ikut menghantarkan ke liang lahat dengan berbagai ritualnya.

Jadi, toleransi Islam dalam antar umat beragama itu hanya menyentuh ranah sosial. Coba kita perhatikan, beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  berkata alasannya menghormati; “Bukankah dia manusia”.
Sehingga, toleransi yang melampaui wilayah sosial ini tidak tepat. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak mengatakan; “Bukankah dia Yahudi”. Sebab toleransi bukan dengan membenarkan ke-yahudian-nya. Dan membenarkan keyakinan agama lain bukanlah disebut toleransi, tapi pluralisasi. Sedangkan istilah pluralisme tidak ada dalam kamus Islam.

Setiap Muslim yang beriman, haruslah komit atau tetap berpegang teguh terhadap keyakinannya. Para ulama mendefinisikan bahwa iman harus memenuhi tiga pilar;

1) pembenaran dalam hati (al-tashdiq bi al-qalb),
2) pernyataan dengan lidah (al-iqrar bi al-lisan)
3) dan perbuatan anggota tubuh (al-‘amal bi al-arkan).

Orang yang telah percaya (tashdiq) dianggap benar kepercayaannya jika kepercayaan itu diikuti dengan qabul (penerimaan), muwalah (kesetiaan), dan idh’an (ketundukan). Karena itu, seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak setia dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bahwa Yahudi dan Nasrani kafir, maka pengakuannya otomatis batal. Berarti mereka tidak tunduk dan setia dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam

Terkait dengan ini, Pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pernah berfatwa, barangsiapa mengakui ketuhanan Allah akan tetapi ia juga meyakini Dia memiliki anak dan sekutu, maka ia sesungguhnya telah keluar dari agama, berdasarkan kesepakatan ulama’ (Hasyim Asyari,Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 13). Artinya, pengakuannya batal karena tidak setia kepada Allah.

Selain ‘toleransi’ yang melampaui batas, toleransi juga kadang dimaknai dengan kebebasan ala liberal. Kaum liberal, menjustifikasi ‘toleransi’ versinya dengan menyodorkan al-Qur’an surat al-Baqarah: 256 yang berbunyi: “Laa Ikraha fi al-Dien” (tidak ada paksaan dalam beragama). Atas dasar ayat ini, maka tidak ada hukum memvonis non-Islam. Bahwa, dalam versi liberal, Islam memberikan kebebasan yang mutlak untuk beragama, atau pun tidak beragama. Bebas untuk beragama Islam, atau beragama non-Islam.

Namun demikian untuk memahami ayat, tidak seharusnya kita memakai metode “mutilasi ayat” (memotong-motong ayat tanpa dikaitkan dengan ayat berikutnya). “Mutilasi ayat” sama saja akan ‘membunuh’ kesucian ayat itu sendiri. Dan ayat di atas semestinya harus dibaca secara utuh, yang lengkapnya ayat tersebut, adalah;

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut. Bahwasannya seseorang dilarang untuk dipaksa masuk agama Islam. Sebab kebenaran Islam itu sangat jelas, terang dan bukti-buktinya gamblang. Menurut Ibn Katsir, sebagaimana cukup jelas dalam ayat di atas bahwa percaya kepada Islam merupakan kebenaran. Sedangkan ingkar terhadap Islam adalah kesesatan. Orang yang masuk Islam adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah, sedangkan orang non-Islam adalah orang-orang yang buta hatinya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim). Jadi, ayat di atas bukanlah justifikasi kebebasan tanpa batas. Sama sekali ayat itu bukan menjelaskan konsep kebebasan. Justru inti ayat di atas ada di kalimat akhir, yaitu, perbedaan orang yang mendapatkan petunjuk dan orang yang tertutup kesesatan (kafir).

Manakala Islam menegaskan kebenaran risalah Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam itu tidak diartikan bahwa umat Islam harus memusuhi dan membunuhi umat agama lain. Sejarah mencatat, bahwa Islam agama yang cukup toleran dan hormat kepada agama lain.

B. Merayakan Tahun Baru itu ‘Tasyabbuh’ (Meniru-niru) Orang Kafir
Begitupun adanya perayaan menyambut datangnya tahun baru Masehi, kita mengakui dan menghormati adanya perhitungan waktu penentuan awal & akhir tahun Masehi dan kita bertoleran untuk itu. Dan umat Islam sesungguhnya telah memiliki adanya perhitungan kalender waktu sendiri dalam penentuan awal & akhir tahun yaitu Hijriyah. Jadi tidak sepatutnyalah kita ikut menyambut atau merayakan datangnya tahun baru Masehi, karena itu   termasuk meniru-niru (tasyabbuh) orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita,  Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam tata cara berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini telah terjadi baik dalam hal pakaian, maupun dalam hal berpenampilan dan bahkan dalam hal kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Untuk itu marilah, saudaraku kaum muslimin, kita tetap menghormati atau bertoleransi akan datangnya tahun baru Masehi ini, namun tidak berarti kita harus membaur, melebur, dan ikut merayakannya…!‼ moga dapat dipahami dan memberikan manfaat Iman, Islam, dan Ikhsaan kita. Aamiin.

~abah al-faqiir

Doa setelah sholat hajat

Doa Setelah Shalat Hajat

Rasulullah SAW membimbing umatnya untuk berwudhu dan shalat dua rakaat ketika mempunyai sebuah hajat kepada Allah atau kepada salah seorang makhluk-Nya. Dua rakaat ini yang kemudian dikenal dengan shalat hajat.

Selepas shalat hajat hendaknya seseorang memuji Allah dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Meskipun Allah SWT sudah tahu hajat yang bersangkutan, baiknya ia membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai berikut.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Lâ ilâha illallâhul halîmul karîm. Subhânallâhi rabbil ‘arsyil karîmil ‘azhîm. Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. As’aluka mûjibâti rahmatik, wa ‘azâ’ima maghfiratik, wal ghanîmata min kulli birrin, was salâmata min kulli itsmin. La tada‘ lî dzanban illâ ghafartah, wa lâ hamman illâ farrajtah, wa lâ hâjatan hiya laka ridhan illâ qadhaitahâ ya arhamar râhimîn.

Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang maha lembut dan maha mulia. Maha suci Allah, penjaga Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Aku mohon kepada-Mu bimbingan amal sesuai rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, kesempatan meraih sebanyak kebaikan, dan perlindungan dari segala dosa. Janganlah Kau biarkan satu dosa tersisa padaku, tetapi ampunilah. Jangan juga Kau tinggalkanku dalam keadaan bimbang, karenanya bebaskanlah. Jangan pula Kau telantarkanku yang sedang berhajat sesuai ridha-Mu karena itu penuhilah hajatku. Hai Tuhan yang maha pengasih.”

Doa di atas mengandung pujian, pengakuan keesaan, permohonan ampunan, dan permintaan pemenuhan hajat. Semoga shalat hajat berikut doanya ini membuka jalan bagi yang bersangkutan.

~abah al-faqiir